Rabu, 25 Juli 2012

Perjalanan Untuk Kembali Pulang


Lima tahun menempuh jenjang kuliah...

Dirangkum dalam tujuh menit presentasi,dan satu setengah jam pengujian,
mempertaruhkan, bahwa waktu lima tahun mencari itu bukan sebuah kesiaa-siaan...
Lima tahun bukan waktu yang sebentar, perlu dana besar untuk membiayainya.
Perlu hati besar untuk menjalaninya, dan perlu jiwa besar untuk memaklumi
semua lelucon yang terjadi.
Semua hal ini, seperti sebuah perjalanan untuk kembali pulang,
dari sebuah ketersesatan dalam sebuah padang gurun, yang penuh dinamika dan penuh pilihan.
Yang penuh lelucon dan godaan. Yang penuh intrik dan kemuliaan. Yang penuh dosa dan doa.
Lima tahun berada dalam ketersesatan, melihat segala macam benda-benda baru,
bertemu segala jenis binatang yang bisa bicara, bertemu malaikat berbulu serigala, bertemu segala macam bentuk proses penyadaran, bahwa usaha untuk mencari Dia, jawabanya adalah, 
"Ini saatnya kau kembali pulang".

Ya, lima tahun di bangku kuliah, seperti perjalanan pulang dari sebuah ketersesatan.
ada rasa pusing di sana, "kemana jalan yang harus ku tempuh untuk dapat pulang?".
Ada rasa kecewa dan puing-puing harapan.
Ternyata jalan yang kuambil malah menghambatku untuk segera pulang.
Karena "aku sudah merasa cukup letih sekarang, aku ingin pulang." -Forrest Gump-
"ingin cepat pulang, dan membawa uang, segudang-segudang uang" -NAIF-.
"Hahaha, tak ada yang dapat dilakukan untuk memenuhi semua itu kawan.
Katekis tak akan pernah punya cukup uang, untuk dapat dihargai orang.
Tapi ia punya cukup kekayaan dari-Ku, untuk dicintai banyak orang..", jawab sang Guru.

Nazar,"Tuhan, jika aku mendapat nilai A aku akan pulang jalan kaki!"
Jutaan langkah yang dibuat selama lima tahun hanya berputar pada satu tempat.
Maknanya hanya memperdalam yang sudah ada kata ilmu pendidikan.
Maknanya itu semua sebuah proses, dan proses harus dilalui. "Jangan sampai terlewat!", kata orang itu.
pulang hanya membawa judul dalam nama belakang "Telah berpulang dari Ketersesatan, Sang Sarjana Penuh dilema (S.Pd)"
"ya, sekarang kau boleh pulang...tapi Aku tak ingin kau pulang dengan tangan hampa, kuberikan kau sebuah talenta,
'jadilah garam, terang, dan ragi' ditempat kau berada.
jangan pernah lupakan tempat dimana kau tersesat, karena kau takakan mau tersesat untuk keduakalinya", pesan sang Guru

Gurun yang hanya ada sedikit air, sedikit makanan dan sedikit nutrisi (ilmu dan isi).
Memaksa setiap penghuninya menyerap sedikit demi sedikit pengetahuan yang ada, sehingga perlu waktu lama untuk berkembang. Kecuali mereka yang berbuat terlampau baik, akan cepat berlalunya.
Arah angin menujukkan kemana harus pulang,
Matahari menujukan sisi barat dan timur (Gelap dan Terang). Serpihan dan puing harapan,
dan keringat orang-orang sebelumnya, berceceran membentuk simbol dan tanda harus pulang.
Ya, pokoknya harus kembali pulang, tanpa peduli apakah harus merekam jejak.
Tanpa peduli semua orang melihat dengan sebelah mata saja.
Ya, seorang katekis...itulah jalan hidupku sekarang.
Yang hanya berjasa ketika orang merasa tak memiliki kuasa apa-apa
atau sedang menghadapi kematiannya.

"Apakah ada guru agama di sini?, Tolong Aku!"
"Maaf, bukan kami, saudara, yang akan menolong, tapi IMAN saudara yang akan menyelamatkan, dengarlah kata-kata kami, karena kami hanya alat IMAN saudara, yang telah lama saudara salibkan dan kuburukan",
"Maka, bangkitkanlah Dia dalam diri saudara, supaya karunia IMAN saudara dapat menyelamatkan saudara".


Selasa, 24 Juli 2012

CAFE


Menu dalam hidup


Menu dalam hidup adalah Hukum Kasih
Kasihilah Tuhan dan Allahmu
Kasihilah sesamamu manusia seperti mengasihi diri sendiri
seperti Tuhan telah mengasihi lebih dahulu