Selasa, 09 April 2013

Pandangan Gereja Katolik Tentang Mormonism



I.  Sekilas tentang Mormonism dan tuduhan terhadap Gereja Katolik

Berikut ini sekilas tentang Mormonism, yang saya sarikan dari buku karangan Father Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2 (Farmington, San Juan Seminars, 1996) p. 19- 26: Gereja Mormon didirikan oleh Joseph Smith, Jr pada tahun 1830. Nama resminya adalah Church of Jesus Christ of Later-day Saints (LDS). Joseph Smith (1805-1844) mengklaim bahwa ia mendirikan gereja Mormon atas dasar wahyu- wahyu yang diterimanya tahun 1820, dari dua orang yang datang dari surga. Mereka mengatakan kepadanya bahwa semua agama Kristen yang ada saat itu sudah rusak total. Maka misi Joseph Smith adalah untuk memulihkan agama tersebut, yang konon sudah rusak segera setelah kematian Rasul yang terakhir. Untuk menggenapi misinya, Joseph Smith mengklaim bahwa Tuhan telah menjadikannya seorang nabi dan rasul. Ia menjadi nabi yang menyampaikan Wahyu Ilahi dan menulis kitab Suci. Smith memang menulis tiga kitab yang diklaim oleh kaum Mormon sebagai bagian dari Kitab Suci: Book of Mormon, Doctrines and Covenants and Pearl of Great Price. Kaum Mormon juga percaya bahwa para pemimpin gereja LDS yang meneruskan Joseph Smith adalah nabi- nabi. Berikut ini adalah sumber- sumber utama yang dipinjam oleh Joseph Smith untuk mendirikan Mormonism:
1)    Protestantism.
Joseph Smith, seperti Charles Taze Russell (Pendiri Saksi Yehuwa) datang dari latar belakang Protestan. Smith mengajarkan kesalahan ajaran Protestantism, seperti penolakan akan Ekaristi, Paus, ajaran tentang Maria, dan kitab- kitab Deuterokanonika.
2)    Adventism.
Ajaran Joseph Smith mempunyai kemiripan dengan ajaran Adventism. Smith memperkirakan akhir jaman pada tahun 1890. Walaupun tidak menekankan perhatian akan akhir jaman, seperti halnya pada aliran the Seventh-Day Adventists dan Saksi Yehuwa, Smith menyerap pola pikir bebas dalam hal- hal religius seperti yang dianut oleh kelompok- kelompok Adventist di jamannya.
3)   Freemasonary.
Smith masuk menjadi anggota Mason tahun 1842, dan mengambil upacara- upacara Masonik ke dalam Mormonism.
4)    Sumber- sumber lainnya.
Tokoh- tokoh kolonial: Cotton Maher, William Penn dan Roger Williams, memperkirakan bahwa orang- orang Indian di Amerika kemungkinan adalah kaum sisa Israel Palestina yang bermigrasi ke Amerika berabad sebelum Kristus. Smith mengajarkan bahwa orang- orang Yahudi yang datang ke Amerika sekitar tahun 600 BC mendirikan dua bangsa yang besar, yaitu Nephites dan Lamanites. Namun demikian, penyelidikan arkeologis dan sejarah Amerika tidak dapat menemukan jejak kedua bangsa ini seperti yang disebut dalam Book of Mormons. Tidak adanya bukti ini telah menjadi hal yang sangat memalukan bagi para sejarahwan Mormon dan arkeolognya. Karena bukti- bukti yang semakin meyakinkan bahwa kedua bangsa ini tidak pernah ada, maka kaum Mormon mengesampingkan ajaran ini.

Ajaran Mormon lainnya yang tidak sesuai dengan Kitab Suci maupun Tradisi Suci adalah tentang perkawinan di surga, poligami, baptisan orang mati, kepercayaan akan wahyu- wahyu yang terus menerus, dan adanya banyak tuhan. Tentang Gereja Katolik, Mormonism menyebutnya sebagai “the great apostasy” (kesesatan yang besar), yang dimulai sejak kematian Rasul yang terakhir (sekitar 100 AD) dan atau paling lambat sekitar tahun 200. Mormonism mengajarkan bahwa Gereja Kristus telah hilang lenyap dari bumi sampai pada saat dipulihkannya oleh Joseph Smith tahun 1829. Tapi sebenarnya tuduhan ini tidak mendasar, sebab Kitab Suci, tulisan para Bapa Gereja abad- abad awal, dan kenyataan sejarah menjadi saksi utama akan kesalahan tuduhan ini.

II.         Jawaban atas tuduhan tersebut

1.     Bukti dari Kitab Suci.
a.      Tuhan Yesus mengajarkan kepada murid- murid-Nya untuk membangun
rumah di atas batu dan bukan di atas pasir, agar rumahnya kokoh dan tidak hancur/ lenyap ditelan banjir (lih. Mat 7:24-27). Maka mungkinkah Ia sendiri tidak melakukan hal itu? Kenyataannya, Yesus mendirikan rumah-Nya, yaitu Gereja-Nya di atas Petrus (Batu Karang) dan Ia sendiri berjanji untuk menjaganya agar tidak sesat/ binasa. Mat 16:13-18 mengatakan: Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (Gereja-Ku) dan alam maut tidak akan menguasainya.” (… upon this rock I will build My Church; and the gates of hell shall not prevail against it.“- KJV, versi yang diakui oleh Mormonism). Maka berdasarkan janji Kristus ini, tidak mungkin walaupun untuk sementara waktu saja, Gereja/ jemaat-Nya dapat binasa dan lenyap ditelan gerbang maut. Maka pandangan Mormonism yang mengatakan Gereja dapat binasa (walau untuk sementara waktu) adalah pandangan yang menuduh Kristus berdusta.

b. Mat 18:15-18: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat (Gereja). Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Yesus mengajarkan untuk membawa perselisihan dalam hal religius ke hadapan Gereja. Perintah ini mensyaratkan keberadaan Gereja yang setia kepada misinya. Jika tidak demikian, artinya kita harus menyerahkan masalah religius kepada gereja pagan yang rusak, untuk memenuhi perintah Kristus, dan ini menjadi tidak masuk akal.

c.      Mat 28:20, Yesus berkata kepada para rasul-Nya: “Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Tak dapat disangkal bahwa Yesus selalu/ senantiasa menyertai Gereja-Nya yang didirikan-Nya di atas para rasul- sampai akhir jaman. Karena janji Kristus ini, maka tidak mungkin Gereja menjadi sesat dalam hal pengajarannya, sebab tidak mungkin Kristus meninggalkan dan mengabaikan Gereja-Nya.

d.   1 Tim 3:15: “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (Gereja) dari Allah yang hidup,tiang penopang dan dasar kebenaran.” Rasul Paulus mengatakan kepada kita bahwa Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran; dan ini menunjukkan sifat Gereja yang kuat, stabil, dan permanen. Gereja sebagai keluarga Allah, akan menjadi guru yang permanen yang mengajarkan kebenaran.

Kesimpulannya: Kitab Suci menunjukkan bahwa Gereja Katolik yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus, tidak pernah dan tidak akan rusak di dalam hal otoritas apostolik dan ajarannya.

Mormonism mengutip ayat- ayat di Kitab Suci tentang penyesatan untuk mendukung klaim mereka tentang ‘kesesatan besar’, seperti Mat 7:15, Kis 20:29, 2 Tes 2:3, dan 2 Pet 2:1). Namun demikian, ayat- ayat ini menunjukkan adanya penyesatan besar yang akan terjadi sebelum akhir jaman, atau kepada kesesatan- kesesatan yang terjadi sepanjang periode sejarah Gereja. Kita setuju dengan Mormonism bahwa telah terjadi dan akan terus terjadi penyimpangan ajaran sesat dari pihak- pihak tertentu yang memisahkan diri dari Gereja. Namun demikian tidak ada ayat di dalam Kitab Suci yang menyebutkan adanya kesesatan total yang melibatkan otoritas apostolik yang terus berlangsung melalui para penerus Rasul, yaitu para Paus dan Uskup.

2.  Bukti dari tulisan Bapa Gereja abad- abad awal.
Adalah penting untuk mempelajari tulisan para Bapa Gereja sampai tahun 200, untuk mengetahui bahwa tuduhan Mormonism sesungguhnya berlawanan dengan fakta. St. Klemens, Ignatius, Yustinus Martir, Polycarpus dan Irenaeus, adalah para Bapa Gereja yang terkenal pada jaman ini, dan tulisan- tulisan mereka didokumentasikan dengan baik. Mereka telah mulai ada sejak jaman para rasul dan berakhir sekitar tahun 200. Maka mereka termasuk dalam periode, yang menurut Mormonism, merupakan periode kerusakan Gereja Katolik dan ajarannya.

Studi tentang tulisan para Bapa Gereja menunjukkan bahwa mereka secara konsisten mengajarkan ajaran Gereja Katolik. St. Klemens (wafat tahun 80) menyatakan tentang otoritasnya sebagai Uskup Roma dan kepala Gereja. Ia juga mengajarkan tentang Misa sebagai perayaan kurban Kristus. St. Ignatius yang adalah pembantu Rasul Yohanes menuliskan sebuah surat yang keras tahun 110, mengecam mereka yang menolak kehadiran Yesus yang nyata di dalam Ekaristi. St. Yustinus Martir pada tahun 155 memberikan secara mendetail perayaan Ekaristi. St. Irenaeus (188-199) memperingatkan agar seseorang harus mengikuti Gereja Roma agar dapat mengikuti ajaran Apostolik.

Para Bapa Gereja bahkan tidak menyebutkan adanya “kesesatan besar”, seperti diharapkan sebagian orang, jika hal itu benar terjadi di masa hidup mereka. Sebaliknya, mereka memang menyebutkan banyak penyimpangan- penyimpangan yang melawan ajaran Gereja Katolik, seperti tuduhan bahwa umat Katolik mempraktekkan kanibalism dan penolakan ajaran tentang Inkarnasi. Jika memang ada penyesatan besar- besaran terjadi di Gereja di masa mereka hidup, tentu kita dapat melihat adanya tulisan- tulisan dalam skala yang besar di pihak penyerang dan pembela ajaran yang benar, namun tidak demikian yang terjadi.

Menurut Mormonism, para Bapa Gereja di abad awal mengajarkan ajaran Mormon, yang kemudian diabaikan oleh para Bapa Gereja yang sesat di jaman berikutnya. Namun demikian, tidak ada satupun Bapa Gereja di abad awal yang pernah mengajarkan ajaran Mormonism seperti poligami, baptisan orang mati, adanya banyak tuhan ataupun perkawinan di surga. Tidak ada bukti sedikitpun bahwa Gereja awal [sebelum terjadinya 'kesesatan besar' menurut kaum Mormon] adalah gereja Mormon. Sebaliknya, bukti yang tidak dapat disangkal adalah Gereja awal tersebut mengajarkan ajaran yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Gereja Katolik mengajarkan ajaran yang sama, yang diajarkan oleh para Rasul, sampai pada hari ini. Kesimpulannya, studi tentang tulisan para Bapa Gereja di abad- abad awal membuktikan tidak adanya klaim Mormonism tentang terjadinya “kesesatan besar”.

3.           Bukti dari Kanon Kitab Suci
Kanon Kitab Suci secara resmi ditetapkan oleh Gereja Katolik pada tahun 382 oleh Paus Damasus I, diteguhkan kembali oleh Konsili Hippo (393) dan Carthago (397). Mormonism menerima dengan iman, kanon Perjanjian Baru, persis seperti yang ditetapkan oleh Gereja Katolik. Namun penentuan kanon ini terjadi setelah tahun 200, yaitu setelah Gereja Katolik, menurut Mormonism, telah menjadi rusak total dan tak dapat mewartakan kebenaran. Bukankah ini adalah suatu pandangan yang tidak konsisten, sebab Mormonism menerima otoritas Gereja Katolik dalam menentukan Kitab Suci, namun kemudian menolak bahwa Gereja Katolik tetap memegang otoritas mengajar dengan benar.

4.            Kebisuan sejarah.
Mengapakah sejarah mencatat adanya pemisahan diri dalam sejarah Gereja: Arianism, Othodoxy, Protestantism- tetapi tidak pernah menyebutkan adanya ‘kesesatan total’? Jika skima- sksima besar disebutkan, mengapa jika memang ada skisma yang terbesar, malah tidak pernah disebutkan? Jika memang ada, tentunya ada orang yang mencatatnya. Jika benar Gereja awal mengajarkan ajaran Mormon, maka tentulah ada tulisan yang banyak dari para jemaat awal, ketika banyak dari anggota Gereja lainnya yang ‘tersesat’ mengikuti ajaran yang non- Mormon. Namun faktanya, tidak ada sedikitpun protes, tak ada bahkan satupun bukti yang menunjukkan hal itu. Kebisuan sejarah ini sungguh merupakan kenyataan yang kuat, yang menunjukkan bahwa klaim Mormonism sebagai ajaran yang asli sungguh tidak berdasar dan tidak dapat dibuktikan.
Sejarah mencatat, misalnya ketika ada ajaran sesat Arianism (di awal abad ke-4) yang menentang keilahian Kristus, maka para Bapa Gereja menanggapinya dengan melengkapi kalimat syahadat (Credo). Sebelumnya Credo hanya menyebutkan tentang Yesus: “Putera-Nya yang Tunggal, Tuhan kita”, menjadi: “Putera Allah yang Tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya…” Dengan demikian, Gereja meluruskan ajaran yang keliru, dan menegaskan kembali ajaran yang benar.

Maka jika benar ada kesesatan besar di Gereja, tentulah ada seseorang yang netral yang dapat menulis sesuatu untuk menantang Gereja agar setia mengajarkan kebenaran. Atau Gereja sendiri harus meluruskan ajaran agar dapat diketahui ajaran yang murni, yang tercermin dalam syahadat/ credo. Namun hal ini tidak pernah terjadi, tidak ada orang yang menantang Gereja untuk mengajarkan ajaran yang murni dari para Rasul [karena memang Gereja sudah selalu mengajarkan ajaran yang murni tersebut]. Sebaliknya, yang ditantang/ ditolak adalah ajaran yang menentang ajaran para rasul itu.

5.           Mormonism tak dapat menjelaskan apakah secara rinci ‘kesesatan besar’ itu
Jika ditanya, kaum Mormon tidak dapat memberikan penjelasan rinci fakta tentang kesesatan besar itu. Yang dikatakan hanya adalah terjadi kesesatan besar, namun jika ditanya apa contohnya secara mendetail, mereka tidak dapat menjawabnya, misalnya: siapa yang mempelopori kesesatan itu, di mana terjadinya, tentang apa, siapa yang menolak kesesatan itu, dst.

6.           Keutamaan Perjanjian Baru
Kita ketahui bahwa sebagai pengikut Kristus kita (maupun kaum Mormon) menerima otoritas kitab Perjanjian Baru. Kitab Perjanjian Lama sendiri tetap eksis selama sekitar 1300 tahun sampai tergenapinya dalam Perjanjian Baru, walaupun ada banyak tokoh pemimpin dalam Perjanjian Lama yang hidupnya jahat. Dengan kenyataan ini, apakah kita harus percaya bahwa Gereja –yang didirikan oleh Kristus yang adalah Allah Putera yang menjelma menjadi manusia dan yang merupakan penggenapan janji Allah dalam Perjanjian Baru– akan dapat runtuh hanya dalam waktu 70 tahun setelah saat didirikannya oleh Kristus?

7.           Kesesatan besar sudah terekam dalam Yohanes 6.
Daripada mencari fakta kesesatan besar yang terjadi setelah kematian Rasul terakhir, kita dapat mencari adanya kesesatan yang direkam dalam Injil. Yoh 6 telah merekam kejadian kesesatan dari banyak pengikut Kristus yang menolak untuk percaya akan ajaran Kristus tentang Ekaristi, yaitu agar para pengikut-Nya makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya dalam rupa makanan (roti) dan minuman. Banyak di antara mereka yang mengikut Yesus saat itu menolak ajaran ini, sebab mereka tidak dapat menerima kehadiran Kristus yang secara nyata dalam Ekaristi. Demikian juga, kaum Mormon juga menolak untuk percaya akan kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi. Maka sesungguhnya dapat dipertanyakan di sini, siapakah sebenarnya yang menyimpang dari ajaran Kristus.
Di atas semua itu, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Wahyu Umum Allah (public Revelation) telah berakhir dengan wafatnya Rasul yang terakhir yaitu Yohanes, sekitar tahun 100. Oleh karena itu tidak akan ada pengajaran baru, ataupun Kitab Suci yang baru ataupun nabi- nabi baru seperti pada jaman nabi Musa, Yesaya, Daniel, dst. Gal 4:4, mengajarkan bahwa Yesus menyampaikan kepenuhan Wahyu Allah. Yud 1:3 mengatakan bahwa ajaran iman ini telah disampaikan kepada orang- orang kudus (…. ye should earnestly contend for the faith which was once delivered unto the saints- KJV). Mat 28:19-20 mengindikasikan bahwa semua ajaran telah disampaikan Kristus kepada para rasul, dan mereka harus mewartakan semua ajaran ini ke seluruh dunia.
Dengan demikian, Kitab Suci sendiri menyatakan bahwa tidak akan ada lagi Wahyu- wahyu umum yang baru, karena Wahyu umum telah mencapai puncaknya, dan telah disampaikan oleh Kristus. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
KGK 66 “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (Dei Verbum 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.
KGK 67 Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja. Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar